Taa-daa!! Ini adalah lanjutan dari cerita KCT pertama. Bagi yang belum baca kisah awalnya bisa buka disini . Yak langsung saja baca lanjutannya~
Waktu tujuh hari sudah ia manfaatkan sebaik baiknya, segalanya sudah ia siapkan semaksimal mungkin. Namun ada satu hal yang masih harus ia selesaikan hari ini juga yaitu sweater untuk Rafa. Ternyata dugaannya benar, waktu tujuh hari tidak akan cukup untuk menyiapkan kado untuk Rafa. Besok sudah tanggal 10, hari dimana Rafa menginjak usianya yang bertambah satu tahun.
Hari ini Farah kembali bertemu dengan yang namanya tengah malam, ia berkutat dengan alat rajutnya mulai pukul 11 malam dan ditengah kesibukannya merajut ia sempatkan untuk mengucapkan selamat serta doa kepada Rafa tepat di pukul 00:00. Ia ketik semua yang ingin ia ucapkan, suara keypad memecah malam, ditambah lagi dengan debaran jantung Farah akibat pesan singkat yang hendak ia kirim pada pria idolanya, Rafa. Tetapi yang diucapkan hanya menjawab seadanya, sekenanya, hanya sekedar ucapan terimakasih. waktu menunjukan pukul 02:15 . Rasa kantuk kian menggelayuti kedua matanya, tak dapat lagi ia menahan rasa kantuk itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidur meski rasanya berat meninggalkan rajutannya yang masih harus diselesaikan pada beberapa bagian lagi.
Minggu pagi yang cerah dengan sedikit sinar surya yang mulai merambat masuk kamar Farah melalui celah jendela kamarnya. Perlahan ia membuka matanya yang berkantung akibat tidur terlalu malam. Rencananya siang nanti ia akan berkunjung ke rumah Rafa, kebetulan rumah Rafa tidak jauh dari rumahnya. Meski sedikit takut karena baru beberapa kali ia kerumah Rafa untuk menyelesaikan tugas kelompok namun ia tetap ingin kerumahnya.Pagi ini ia manfaatkan untuk melanjutkan membuat sweater sampai waktu yang ditentukan tiba. Sayangnya, benang yang sejak kemarin ia gunakan telah habis, sehingga ia harus membelinya terlebih dahulu, dan sialnya sudah beberapa toko yang ia datangi namun tak satupun menjual benang yang berwarna sama dengan rajutannya. Semua itu tak mematahkan semangatnya, ia terus mencari ditemani oleh seorang sahabatnya sampai ia tidak sadar bahwa waktu sudah menunjukan pukul 17:00. Farah hampir kehilangan semangat karena ia tidak jadi menemui Rafa, sahabatnya sudah ditelfon ibunya untuk segera pulang kerumah.
Akhirnya dengan rasa kecewa ia pulang kerumah. Betapa terkejutnya Farah begitu melihat bahan merajutnya telah lengkap, ibu yang membelikannya di salah satu teman arisannya. Dengan senyum yang ia torehkan, ia mulai merajut hingga selesai dalam waktu dua jam.
Ia menunaikan sholat dan menyiapkan kado, kue, serta baju yang hendak ia gunakan esok hari. Selanjutnya ia tidur agar besok dapat datang kerumahnya pagi hari. Namun ia teringat akan sweater yang belum sempat ia bungkus, ia membeli kertas kado berwarna biru polos dan membungkusnya. Tidak lupa ia tuliskan kartu ucapan yang berisi "Happy birthday untukmu yang selalu tampan tak terbilang pagi atau saat senja mulai datang. Semoga Allah selalu merahmati dan melindungimu melebihi waktu pagi dan senja." Usai sudah semuanya, ia menaruh kembali kado itu di atas meja belajarnya.
'Somewhere ... Over the rainbow ....' alarm yang ia pasang telah brrbunyi, waktu menunjukan pukul 04:40. Farah menunaikan sholat subuh di kamarnya.
Selesai sholat ia mandi dan bersiap untuk kerumah Rafa nanti, ada debaran hebat didada Farah yang pernah ia rasakan sebelumnya, Tetapi debaran kali ini diiringi dengan seutas senyum di wajahnya.
waktu menunjukan pukul 10:14, ia berpamitan dengan ibu untuk kerumah Rafa. Tapi sayang, pengorbanan Farah beberapa hari ini mendapat balasan pahit, ia melihat sosok pangerannya telah bersama seorang wanita yang ia kenal, wanita yang memanggil Farah 'Kakak' saat disekolah. Ya, wanita berparas cantik itu adalah adik kelasnya yang saat ini sedang menerima sepotong kue dari Rafa.
Bukan main sakit yang dirasakan Farah, dengan mata berkaca-kaca ia mematung dan kebetulan ada teman Rafa lewat di depan Farah, ia pun menitipkan kado serta kue itu kepada teman Rafa. lalu segera ia berlari menuju rumah dan menangis terisak. Ia tidak tahu apakah Rafa sudah menerima kadonya atau belum, bahagia atau tidak, dan mempedulikan perjuangan Farah atau tetap bersikap biasa saja.
Farah menyerah, tepat tanggal 11 Mei pukul 11:00, Farah memutuskan untuk berhenti, berhenti mengangumi dan mencintai Rafa. Ia tuliskan kekecewaannya dalam diary book yang selalu menemaninya. 'Untuk Rafa, pria yang sempat mengambil seluruh perhatianku, Rafa yang pernah menjadi sumber kebahagiaanku walau tak pernah benar-benar membuatku tertawa. Ibumu tepat memberimu nama Rafa, yang berarti kebahagiaan. Semoga hari ini hanya aku satu-satunya orang yang meneteskan air mata karenamu, semoga selain aku tak ada lagi yang merasakan sakit ini, semoga kamu benar benar Rafa yang menjadi kebahagiaan:)'.
Diakhir kalimatnya kembali Farah meneteskan air mata, mengingat kejadia getir yang berlangsung dalam hitungan menit yang mungkin akan meninggalkan ingatan pahit dalam hitungan tahun.
Tidak semua perjuangan berakhir manis, tidak semua usaha berujung indah. Sangat sakit yang dirasakan Farah, adik kelas yang baru menyinggahi hidup Rafa dan belum pernah mencicipi pahitnya pengabaian namun sudah menerima terpaan kebahagiaan yang sangat lama Farah nantikan namun didapatkan oleh orang yang tak pernah Farah duga.