Selasa, 22 Juli 2014

Untuk Mantan Gebetan

Aku bahkan tidak tahu mengapa melupakanmu menjadi hal tersulit bagiku
Setiap kali aku melihatmu, setiap kali kedua mata kita saling bertemu, ada getaran yang semakin lama semakin kuat menggoyahkan hatiku
Aku hampir saja rapuh, tak mampu menahan sedih saat mengetahui semua itu
Kamu telah bersama seseorang yang sangat kamu cintai
Seseorang yang merasakan cinta darimu sedalam cintaku padamu
Apakah terlalu bodoh jika kini aku masih menunggu?
Walaupun kenyataannya begitu pahit namun tak mematahkan keinginan untuk bersamamu
Bahkan kamu tak pernah memberi kebahagiaan nyata untukku
Justru aku yang mendatangkan kebahagiaan itu sendiri
Seringkali kutemukan senyum yang tak kurencanakan, lengkungan bibirku terkembang begitu saja saat melihatmu
Terlebih saat melihatmu melakukan hal yang begitu aku inginkan walau itu kamu lakukan bukan untukku
Terkadang aku iri dengan kekasihmu, tentu saja karena dia bisa memilikimu, juga mendapatkan hatimu secara utuh
Aku merasakan perih yang kadang membahagiakan
Aku selalu memikirkan dan memimpikanmu, aku tidak tahu apakah wanita yang kamu cintai punya cinta yang segila ini untukmu? Apakah ia juga rela memalsukan senyuman saat kamu bahagia dengan yang lain? Entahlah.
Dan yang lebih membuatku iri, banyak teman wanita kita yang bisa merasakan kedekatan denganmu
Lain halnya denganku yang harus diam-diam dan mencuri pandang untuk sekedar melihat senyummu
Senyumanmu untuk mereka terkadang membuatku begitu cemburu
Namun apa hak ku untuk mencemburuimu? Aku dan kamu tak ada ikatan sama sekali
Seandainya bisa aku mengatakannya, seandainya bisa aku mengungkapkannya, dan seandainya bisa aku memiliki posisi yang mempermudah aku untuk bicara
Aku ingin kamu tahu, aku sangat menyayangi kamu, sangat ingin merasakan dicintai olehmu, atau setidaknya aku bisa mendapat sedikit nyanyian rindu yang sering kamu nyanyikan bersama temanmu

Seandainya aku diperkenankan untuk meminta, aku hanya ingin satu hal. Aku hanya ingin merasakan bahagia dengan bersamamu, dengan memilikimu secara utuh dan dengan mendapatkan seluruh cinta tulus dari kamu.

Kembali

Saat aku kembali merasa sesak, saat rindu ini memaksaku untuk bertemu, dan saat luka ini kembali terbuka. Apa yang harus aku katakan? Apakah aku harus berdusta pada nurani? Serta berbohong pada hati yang terlanjur sakit ini?
Kesakitan, kerinduan, dan kehampaan kembali, datang lagi untuk mengisi hati yang telah menjadi kepingan ini. Mampukah itu semua terobati? Sementara pengobatnya sudah pergi jauh dari sisi.
Walaupun kamu tak lagi di sini, namun aku tak pernah merasa sendiri. Aku ditemani sesuatu yang juga bagian darimu. Sesuatu yang selama dua bulan ini mengiringi langkah kita yang serasi. Sesuatu itu yang kuberi nama ‘kenangan’
Aku pergi bersama kenangan, kembali meyusuri setiap jalan yang telah aku dan kamu lewati bersama. Aku dan kenangan mencari setiap kepingan hati yang tertinggal di jalan yang pernah kita lewati.
Bersama kenangan aku menemukan setiap potong hati yang penuh luka. Kususun kembali semuanya bagai sebuah puzzle. Tapi, kini kenangan kita tak lagi bersahabat. Saat semua kembali, saat hati ini utuh lagi, walau ada retak di sana-sini. Tiba-tiba kenangan itu menghancurkannya, merobek kembali tempat yang kubuat untuk menyembunyikan kelukaan ini, dan membuat segala kepahitan itu terbuka lebar untuk yang kesekian kalinya.

Sekarang aku ingin melupakan kamu, juga kenangan. Aku harap aku tak akan lagi melihat kalian, dan semoga saja kamu dan kenangan itu tidak pernah bertamu, terutama saat aku tidak siap untuk bertemu.

Menunggu

Aku hendak berlalu pergi, meninggalkan sisa-sisa kenangan yang kian lama kian mengekang
Baru saja aku melangkahkan selangkah dari salah satu kakiku, namun rasanya saraf otakku berhenti seketika, menghentikan derap langkah yang belum sampai pada tujuannya.

Lantas harus bagaimana? Apakah jalan satu-satunya hanyalah diam? Menunggu sesuatu yang tak pernah ingin kutunggui
Seandainya fikiran dan hatiku dapat berpadu, tentu sudah sejak dulu aku pergi jauh darimu dan tak lagi berada di sini untuk menunggu hal yang tak kunjung datang penggantinya

Rindu

Aku menjejakkan kakiku pada sebaris rerumputan, mencari  setetes embun untuk membasahi mataku yang mulai kering kehabisan air mata.
Semilir angin mulai membelai lembut rambutku, menerbangkannya ke kanan-kiri.
Aku mulai memandangi sosok mentari yang tersenyum dengan indah, seolah tak ada beban kerinduan seperti yang ku alami.

Rindu menyimpan begitu banyak misteri, rindu akan banyak hal, akan keindahan yang dulu kamu lakukan.
Aku mengira semuanya hampir usai. Kehangatan yang kian lama menipis dan memudar.
Kerinduan membawa jauh ingatanku akan masa yang telah kita lalui, masa yang begitu sulit kulupakan dan begitu inginnya ku ulang.
Tetapi sia-sia karena kuhanya mampu mengenang