Rabu, 29 November 2017

Kisah si Gadis



Malam ini seperti malam-malam sebelumnya, gadis itu memikirkannya, menceritakan tentangnya dengan kata-kata yang menari di atas kepala.
Aku tak mengerti yang diinginkan gadis ini, begitu banyak waktunya yang terbuang hanya untuk mengingat, membawa pulang setiap kenangan yang beberapa diantaranya hanya menyesakkan dada.
Gadis ini merasakan debaran yang ada di dadanya berubah menjadi rasa sesak ketika mengingat hal yang membuat sosok yang dicintanya pergi. Apalagi kepergiannya tanpa alasan yang jelas, hanya maaf dan terimakasih yang ia ucap.
Tentu saja gadis ini kecewa, seharusnya sejak awal ia tak mengenal lelaki itu apalagi untuk mencintainya. Percayalah itu adalah perkenalan yang menyakitkan.
Ia begitu terbuai oleh manisnya sebuah perkenalan hingga lupa bahwa kebanyakan cinta datang dengan sapaan ringan dan pergi tanpa sebuah alasan yang mungkin sebenarnya hanya karena rasa bosan yang tak dapat dijelaskan.
Tapi sayangnya seberapa banyak ia menyesali, semua tak akan pernah kembali, semua tetap begini, tetap tak jadi satu, ia tetap menjauh, dan tentu gadis ini hanya akan tetap merasakan rindu yang selalu bertamu bersama pilu.
Gadis ini terlalu memikirkan ia, sosok yang bahkan tak pernah ia tau untuk siapa pikiran dan perhatiannya. Hanya ia yang jadi fokus utama, sampai si gadis lupa bahwa dirinya sebenarnya adalah aku. Gadis yang menghabiskan waktu untuk menunggu hingga tak sempat mengingat, apalagi membahagiakan dirinya terlebih dulu.

Minggu, 26 November 2017

Yang Masih Terkenang Meski Harusnya Sudah Hilang


Di dunia ini ada banyak banget hal berpasangan yang terjadi dalam hidup gue, seneng-sedih, suka-duka, tawa-tangis, sampai melupakan dan dilupakan.
Di antara banyaknya kejadian, gue nemuin satu orang yang bisa dibilang cukup penting keberadaannya dalam hidup gue. Orang itu yang sejak awal gue kenal udah gue suka, suka dalam artian suka akan suatu hal di dirinya, bukan suka yang mengarah ke cinta.
Pokoknya setiap yang orang itu lakuin menarik buat gue dan sering banget bikin ketawa. Mulai dari tawanya, ceritanya, tingkah lucunya, bahkan sampe kekonyolannya kadang bisa jadi hal yang menghibur buat gue. Dan hebatnya, gue bisa (pernah deng) milikin itu semua, gue bisa ngerasa bahagia, bisa ketawa karna itu semua. Walaupun semuanya udah bukan milik gue lagi, karena dia sudah dengan dia.
Tapi akhirnya gue sadar kalo ternyata dia (masih) sumber kebahagiaan gue, dia ga seromantis orang-orang, ga cukup royal buat ngasih gue ini itu, tapi dia bisa ngasih gue sesuatu yang lebih dari itu semua, dia selalu bisa menghibur gue, dan bikin gue tenang saat gue ngerasa sedih dan gelisah. Dia ga pernah nenangin gue lewat kata-kata yang manis, tapi dia selalu punya caranya sendiri buat bikin gue ketawa dengan setiap omongannya, dan kalo gue lagi kenapa-napa pastinya rasanya seneng dan tenang setelah liat mukanya yang ngeselin tapi ganteng (menurut dia) itu. Yaaa, walaupun gue akan sulit buat ngeliat wajah itu lagi.
Daannn, tau ga? Gue nulis ini ketika gue baru pulang dari rumah sakit. Fyi, belakangan ini gue punya trauma yang bikin gue takut kecelakaan. Dan tadi gue lewat rel kereta (naik ojek online), abangnya mau jalan terus tuh padahal udah ditutup, dan gue bener-bener takut. Untungnya di kantong baju gue ada benda milik dia, akhirnya gue megangin benda itu sepanjang jalan, dan luar biasa, gue langsung lebih tenang dan ga takut lagi, dan ada keyakinan dalam diri gue kalo semua akan baik baik aja.
Aaannddd, anw, gue nulis ini cuma sekedar menenangkan diri kalo gue masih bisa nunjukin betapa beruntungnya gue masih bisa dan boleh bercerita tentang dia, meskipun secara diam-diam dan tanpa dia tau kalo ini buat dia.
Ya, harusnya kalo dia tau, jangankan buat nulis tentangnya, buat mikirin dia seketika aja gue rasa udah jadi dosa.

Kamis, 23 November 2017

Apakah Nyata?


Semesta seolah mengerti
Bahwa ada kerinduan yang sulit kuatasi
Jagad raya pun seperti tahu
Bahwa aku butuh jawaban atas dinginnya sikapmu

Petang ini, langit seolah menaungi diriku, juga kamu
Untuk dapat bersatu dan kau beri alasan atas diamnya sikapmu
Biarkan jembatan penyebrangan ini menjadi saksi
Bahwa aku pernah berjalan di sampingmu
Pernah berbagi cerita juga tawa diantara padatnya jalan raya

Biar malam dapat tenang, bahwa aku telah bahagia
Biar bulan bersinar terang menyadari senyumku telah tiba
Biar bintang bertaburan terang
Ikut berkelip bersama mataku yang tak kuasa menahan kedip
Yang masih meraba-raba apakah tadi adalah nyata

Mantan Calon Kita

Kita adalah Annisa(h) yang sama sama menyukai seorang ikhwan disana
Mungkin daripada suka, kagum adalah kata yang lebih tepat.
Tanpa kita sadari kita telah sama sama mengagumi seorang ikhwan disana,
Dan hal itu pula yang membawa kita untuk mengikuti kegiatan yang sama dengannya.
Kita berdua bergabung dalam organisasi berakhiran -is (tapi bukan isis yaa)
Dan kebetulan kita cukup dekat disana, dan beberapa kali ada dalam kelompok yang sama.

Masih terekam bagaimana menganguminya saat pertama kali bersamanya
Kagum yang bukan disebabkan oleh kerupawanannya, melainkan karna Akhlakul Kharimah dan sifat kepemimpinannya
Mungkin banyak akhwat di luar sana yang mengagumi si ikhwan ini
Mungkin bukan hanya mengagumi melainkan sampai berlomba-lomba mengejar hatinya
Entah disampaikan secara langsung maupun disampaikan melalui Allah

Dan kita hanyalah salah dua yang menyampaikan rasa kagum melalui doa
meski nyatanya seringkali tak dapat menjaga mata jika melihat ia berdakwah,
menyiarkan islam di lingkungan kami dengannya.

Dan kau tau?
Suatu ketika kita berdua membicarakan perihal seseorang yang kita kagumi (saat itu kita sudah cukup dekat untuk membahas ini)
ketika sama sama bertanya "dia siapa?"
Kitapun sama sama menjawab bahwa dia adalah dia,
si lelaki soleh yang dikagumi oleh akhwat-akhwat soleha,
yang derajatnya lebih tinggi daripada kita berdua perihal agama (setidaknya itu penilaian kita)

Semakin asyik dengan perbicangan mengenai kekaguman terhadap ikhwan sholeh ini,
Hingga akhirnya kami pun tersadar kalau mencintainya sebelum waktunya tidak baik
Seirama dengan berjalannya waktu, rasa kekaguman ini pun memudar
Memudar karena tau bahwa kita seharusnya mencintai Nya bukan mencintai nya

Berlambat laun kita pun menyelesaikan masa sekolah kita
Datang hari dimana rasa kekaguman ini muncul kembali
Sebuah foto yang menunjukkan betapa hebatnya dia yang di banjiri semangat dari kawan-kawannya
Mungkin tak hanya kawannya melainkan ada beberapa akhwat yang mungkin juga mengaguminya

Tapi, kita disini hanyalah sebagai penonton
Tidak berani menyemangatinya ataupun yang lainnya
Hanya melihat betapa bangganya melihat dia yang sekarang
Yang Insya Allah lebih baik dari sebelumnya

Semoga dengan bertambahnya usia, juga jarak yang semakin membatasi kita, tidak merubah hal baik di dalamnya.
Sebaik saat dulu kita bersama, dan ia menjadi penyemangat bagi kami berdua untuk terus berkembang dari sebelumnya.
Sebagaimana dulu kami menjadi khalifah sebab termotivasi olehnya.
Dan harapan kami tak jauh berbeda dari saat itu, semoga ia dapat menjadi pemimpin yang amanah, terlebih sekarang tanggung jawabnya lebih besar dari yang pernah ada, serta dapat terus menjadi motivasi bagi kami.

Barakallahu, si ikhwan sholeh
Terimakasih sudah menjadi motivator dalam hidup kami
Terimakasih sudah menunjukkan tentang pemimpin yang sesungguhnya
Kita tidak tau rasa ini benar akan selamanya memudar atau tidak
Kita berdua pun tidak tau apa kamulah yang Allah tulis di lauh Mahfudz sebagai pendamping hidup dari salah satu diantara kita
Terimakasih sekali lagi atas rasa bangga yang sudah ditimbulkan

Dari 2 akhwat yang sama-sama menganggap kau adalah mantan calonnya (Annisa & Annisah)

Senin, 20 November 2017

Bahagia bagi awal, pertengahan, dan tanpa pernah usai



Jika boleh meminta, aku ingin menjadi milikmu saja
Aku ingin cinta tanpa perlu kukenali yang namanya luka
Aku mau bahagia tanpa bercampur luka
Tentu ini menjadi hal yang tak mudah
Karena setahuku, tak ada bahagia yang benar-benar sempurna
Kamu baru saja tiba, membawakan bahagiaan yang tak dapat kujelaskan indahnya
Mengingatkanku bagaimana cara berbagi tawa
Mengajarkan kembali cara terbaik membalut luka
Meski bahagia yang kau tawarkan sulit untuk kuelakkan
Tetap saja ada rasa khawatir kehilangan
Karena sejatinya perpisahan selalu menghantui tiap pertemuan
Sebab itu aku membenci sebuah perkenalan
Terlebih kehadiranmu menawarkan gelak tawa yang sudah lama kutunggu hadirnya
Aku takut jika dibiarkan lebih lama, ini akan membawa cinta
Bukan cinta yang takut untuk kutemui
Hanya saja aku tak siap untuk jatuh lagi
Apalagi jika setelahnya hanya ada sakit yang aku rasa
Sakit yang mungkin sama seperti saat aku jatuh pada cinta sebelum kamu
Mungkin aku terlalu rapuh dalam bertahan setelah jatuh
Meski begitu, kamu terus saja meyakinkanku
Memaksaku percaya bahwa aku tidak salah jatuh cinta
Bahwa kamu akan berusaha untuk mempertahankan hubungan kita
Walau manis didengar telinga, tak segera kutelan mentah-mentah apa yang kau katakan
Karena aku sendiri sulit untuk mempercayai
Tetapi, kamu tidak perlu khawatir
Meski tak sepenuhnya percaya namun aku akan berusaha mewujudkannya
Karena aku masih saja mengaharpkan bahagia yang sempurna
Dan aku harap kamulah yang Tuhan kirimkan untuk mengantarkannya
Semoga kamu adalah sumber bahagia
Bagi awal, pertengahan, dan tanpa pernah usai.

Kamis, 16 November 2017

Menunggu atau Memilih?



Sekali lagi aku berada diantara kebimbangan
Kucoba memilih satu dari sebuah ketiakpastian
Tapi sesekali langkahku terhenti
Kulirik kembali sosok disisi lain hidupku ini
Jalan mana yang seharusnya kupilih?
Jalan mana yang bisa menuntunku ke arah yang pasti?
Ketika hatiku sudah kukuh berdiri
Justru logika membuat hati ragu akan apa yang sudah kuanggap pasti
Mana yang benar baik untukku?
Antara logika dan hati, mana yang lebih pasti?
Pilihan apa yang tak berujung menyakiti?
Apakah tidak keduanya?
Apakah cukup bagiku menunggu terpilih tanpa harus memilih?