Senin, 29 September 2014

Gersang


Di atas tanah mengering ini kembali kuhirup udara pagi yang aromanya sangat berbeda, begitu jelas tercium aroma kesedihan akibat kegersangan. Bahkan orang – orang yang begitu ramah padaku terlihat muram. 

Kemarau menghapus hujan serta merenggut tawa bahagia para penghantar berkah sang kuasa, Padi-padi yang sempat menguning dua tahun lalu pun terlihat menyedihkan tak secerah seperti emas dibawah pancaran sinar surya.

Tuhan, kemana bahagia yang dulu sempat kau curahkan pada kami? Kini tak ada lagi bahagia, tak ada air mengalir dengan tenangnya, dan tak ada lagi padi menguning di siang cerah. Mungkin salah hamba yang begitu angkuh dalam dosa, terlalu sibuk menkmati dunia, dan terlalu kufur untuk mensyukuri nikmat-Nya.

Anugrah Pencipta


Mentari pagi ini nampak cerah, kuhirup dalam-dalam aroma embun pagi yang begitu menyegarkan. Sungguh tak terkira anugrah sang pencipta yang telah membuat dunia ini nampak indah dengan sejuta pesona ciptaannya. Subhanallah, ucap syukur tak hentinya terucap dari lisanku. Hari ini aku tak ingin melakukan banyak hal, aku hanya ingin menikmati pagi, tersenyum, dan menceritakan segelintir kisah hidupku yang mendapat sapaan lembut angin yang menimbulkan kenyamanan yang sangat dalam di dasar hatiku.

Semoga Tetap Utuh


Andaikan ku dapat melewati celah sempit yang perlahan namun pasti mulai kau tutup rapi, tentu sudah kuusahakan untuk dekat denganmu lebih dari ini.
Ah, kesalahan fatal yang membuatmu pergi seolah tak ingin mengenalku lagi, aku sakit melihat kenyataan ini.
Namun aku bisa apa jika kamu yang membuat seolah perbedaan ini sebagai tabu.
Aku tak tau apa yang kamu ingin, yang aku tau aku hanya berusaha menjalin kedekatan ini dengan baik, tak ada maksud untuk membuat hubungan ini lebih jauh lagi, aku hanya ingin semua ini tetap utuh tanpa berkurang suatu apapun itu.