Rabu, 13 Desember 2017

Si Pemilik Gitar Coklat Tua



Aku bukan wanita yang menggilai musik indah
Apalagi petikan gitar yang kudengar dalam ruang tak terbuka
Lantunan lagu yang dibawa justru membuatku ingin memejamkan mata
Namun tiba-tiba kamu ada
Dengan percaya diri kamu menaiki anak tangga menuju tempat dimana kamu seharusnya berada
Kamu merapihkan tempat dudukmu dengan tingkah yang membuatku tertawa
Kuperhatikan kamu tanpa jeda, tanpa ada kedipan mata
Lalu jemarimu mulai bermain di atas senar gitar coklat tua
Beberapa petik saja sudah membuat mulutku terbuka
Sungguh, itu adalah suara terindah yang pernah singgah melewati daun telinga
Seketika saja membuatku terkagum karenanya
Hingga mataku tak berhenti menatapmu yang mulai berlalu
Kutatap wajahmu dari samping yang perlahan mulai menjauh
Kamu adalah penutup acara yang luar biasa
Penampilanmu mendapat tepuk tangan meriah
Dan mendapat tatap kagum yang memang semestinya kau terima

Minggu, 10 Desember 2017

Its Cha Ketika SD



Assalamualaikum, (namamu). Apa kabar? Cukup sehatkan buat ikut berkelana ke zaman purbakala? Eh ga deng, ke zaman dimana ciki chuba belum mengalami penyusutan. Kalau lu anak 90an, pasti pahamlah.
Kenapa gue milih zaman itu atau masa Sekolah Dasar untuk gue bahas pertama kali tentang sekolah? Itu karena gue ga pernah berada di jenjang pendidikan di bawah SD, atau bisa dibilang gue ga pernah TK alias lahir langsung bau tanah, ga ga ga.
Sekolah Dasar, sesuai dengan namanya, di sekolah ini gue belajar semua dari dasarnya. Pembelajaran ilmu pengetahuan dasar gue terjadi di dua gedung sekolah yang berbeda. Pertama di salah satu Madrasah yang terdiri atas sekolah dasar dan taman kanak-kanak. Taman kanak kanak yang godaaannya membuat gue dikunci di dalamnya. Ini karena gue yang ga pernah TK dengan noraknya masuk dan main wahana yang ada di dalamnya, seakan gue berada di Dufan. Alhasil, untuk keluar  gue harus manjat pagar TK itu dengan menggunakan rok panjang. Kapok? Yak! Gue emang gampang kapok sama sesuatu. Jadilah tiga tahun gue di sekolah ini tanpa main-main di TK itu lagi. Hingga di akhir semester ke enam gue mendapat masalah di sekolah ini yang membuat gue memutuskan untuk mengulang kembali dari semester lima di sekolah gue yang baru, di salah satu Sekolah  Dasar Negeri di kecamatan Jatinegara.
Awal masuk sekolah ini, mereka, teman baru gue menyambut gue dengan biasa aja. Ya ini berpengaruh dari tampang dan penampilan kali ya. Gue yang saat itu cuma seorang gadis biasa tanpa hal yang istimewa Cuma dapat sambutan hangat dari beberapa orang yang kini jadi sahabat gue. Sebut saja Rara dan Riri.
Gue, Rara dan Riri sering main bareng, jajan bareng, belajar bareng, mandi hujan bareng, bahkan ngewarnet pas H-1 Ujian Nasional bareng. Serius, saat itu medsos baru banget kami kenal. Kami lagi gila-gilanya sama yang namanya facebook. Gue yang anaknya polos alias ga tau apa-apa ikut aja pas diajak ngewarnet. Bayangin aja udah H-1 UN gue malah main facebook selama empat jam, yang kami kerjain juga ga penting-penting banget. Cuma bikin akun e-mail buat sign up, nyari foto artis yang kece buat dijadiin profil picture, saling menambahkan sebagai teman, dan ketidakpentingan lainnya.
Rasanya gue ga mau ngebayangin gimana alaynya gue saat itu, dulu tuh gue gini:
Jadi dulu gue .. hm ya karena gue ga mau bayangin jadi gue ga bisa nyeritain gimana gue dulu. Haha.
Ya intinya dulu banyak banget hal yang diluar pemikiran gue saat ini, hal yang selalu gue fikir “kok gue bisa gitu sih?”, “serius dulu gue begitu?”, “ah masa sih dulu gue kayak gitu?”. Gue selalu bertanya-tanya kenapa otak gue bisa sedangkal itu, gue ngerasa kayak gue aneh gitu. Tapi dibalik kealayan  gue, gue bisa tertawa bareng sahabat dan teman-teman gue, gue bisa senang sepanjang hari, bisa ngalay bareng tanpa mikir haters, tanpa takut dihujat, dan yang terpenting meskipun gue lagi kecanduan dunia maya, gue tetap dapat berprestasi dan (bukan sombong, cuma so’) mendapat NEM tertinggi se-SD gue.
Itu semua karena mereka juga, para sahabat gue yang memberi semangat dalam diri gue, juga karena pelajarannya yang terbilang cukup mudah, dan yang terutama karena materi-materi pelajaran yang gue pelajari masih utuh. Ga kayak sekarang yang udah banyak banget diracuni oleh pemikiran si logika yang selalu mau berargumen saat mendengar kalimat yang tak sependapat. Pemikiran- pemikiran itu akan gue tulis di postingan selanjutnya.  Jadi jangan bosan mampir ke blog gue ya. Terimakasih.

Kamis, 07 Desember 2017

Keindahan ini milik siapa?

Kamu selalu membuatku percaya bahwa hanya ada indah dalam kita
Tapi tidak setelah kamu mengenalnya
Kita bukan lagi kita, kita hanya sekedar kata ganti untuk aku dan kamu
Bukan lagi sebagai pemersatu

Karena sepekan saja kamu bersamanya, sudah kau temui bahagia yang baru
Bahagia yang menyulitkanku untuk menggapaimu
Tentu saja karena kuyakin bahagiamu bukan lagi padaku
Bahagiamu sudah menetap pada sosok yang baru

Dan indah sudah bukan lagi kita
Indah adalah kalian, kurasa
Sudahlah, aku sudah lelah
Untukmu dengan dia, selamat berbahagia!

Senin, 04 Desember 2017

Menuunggu atau Memilih?



Sekali lagi aku berada diantara kebimbangan
Kucoba memilih satu dari sebuah ketiakpastian
Tapi sesekali langkahku terhenti
Kulirik kembali sosok disisi lain hidupku ini
Jalan mana yang seharusnya kupilih?
Jalan mana yang bisa menuntunku ke arah yang pasti?
Ketika hatiku sudah kukuh berdiri
Justru logika membuat hati ragu akan apa yang sudah kuanggap pasti
Mana yang benar baik untukku?
Antara logika dan hati, mana yang lebih pasti?
Pilihan apa yang tak berujung menyakiti?
Apakah tidak keduanya?
Apakah cukup bagiku menunggu terpilih tanpa harus memilih?

Jumat, 01 Desember 2017

Teruntuk Aku, Kamu, Kita Semua




Pada akhirnya perpisahan menjadi hal yang lumrah saja kan? Merelakan memang sudah suatu keharusahan sebab di dunia ini tak akan ada yang bisa dipertahankan lebih lama
Jika sudah waktunya, yang pergi memang harus pergi kan? Jika masanya telah tiba tak ada  yang bisa kita perbuat selain membiasakan kembali segalanya tanpa ia yang sebelumnya sudah biasa kita rasakan kehadirannya
Tuhan memang tak pernah salah dalam menentukan takdir setiap umatnya, selalu ada bahagia yang diawali dengan duka, selalu ada hikmah dibalik pedih dan luka dari hilangnya sosok yang pernah ada.
Barangkali tanpa kita sadari, yang pergi akan bisa mendapat kebahagiaan lebih banyak lagi, bahagia yang tanpa kita pernah tau ternyata lebih banyak daripada saat kita bersamanya. Dan bisa saja kitapun mendapat hal yang sama.
Tentu tak ada yang kita bisa perbuat selain membiarkan tuhan melakukan yang sudah seharusnya dilakukan, membuatkan kita sebuah pertemuan dan akhirnya mengenalkan kita pada perpisahan. Tuhan sudah tau lebih dulu bahwa ini adalah yang paling baik dimata-Nya, bahwa ini lebih baik dari segala hal yang pernah kita rencanakan untuk ada sebelumnya.
Mungkin masing-masing dari kita sudah disipkan seseorang baru yang mungkin akan kita tolak pada awalnya, namun ternyata orang itulah yang membawakan kebahagiaan yang tak pernah kita sangka tuhan akan sebaik ini memberikan ganti pada kita yang sudah berburuk sangka atas perpisahan yang sudah ia rencanakan sebelumnya.
Jika tuhan membuat perpisahan sebaik ini maka cara terbaik untukku menghadapinya ialah berdoa, membisikan segenap harapan pada tuhan, meminta pada-Nya untuk menjaga setiap rindu yang kita rasa, menjaga setiap ingatan dan kenangan indah untuk tetap tinggal dalam dada meski pemiliknya sudah tak lagi ada.
Terakhir, permohonanku pada pemilik atas segala hidup dan mati: semoga ia memberikan kamu hidup yang baik meski itu tanpa aku, semoga ia memberikan mati yang paling baik bagi orang yang sangat ku kasihi, dan semoga setiap permohonan dan doa yang kumohonkan untukmu kepada-Nya dapat ia terima dan kabulkan secepatnya. Karena setiap doaku selalu baik untuk kamu dan selalu aku berharap agar tuhan mengabulkannya dengan cepat agar kamu dapat cepat bahagia meski bagaimanapun kondisi kita.