Selasa, 22 Juli 2014

Kembali

Saat aku kembali merasa sesak, saat rindu ini memaksaku untuk bertemu, dan saat luka ini kembali terbuka. Apa yang harus aku katakan? Apakah aku harus berdusta pada nurani? Serta berbohong pada hati yang terlanjur sakit ini?
Kesakitan, kerinduan, dan kehampaan kembali, datang lagi untuk mengisi hati yang telah menjadi kepingan ini. Mampukah itu semua terobati? Sementara pengobatnya sudah pergi jauh dari sisi.
Walaupun kamu tak lagi di sini, namun aku tak pernah merasa sendiri. Aku ditemani sesuatu yang juga bagian darimu. Sesuatu yang selama dua bulan ini mengiringi langkah kita yang serasi. Sesuatu itu yang kuberi nama ‘kenangan’
Aku pergi bersama kenangan, kembali meyusuri setiap jalan yang telah aku dan kamu lewati bersama. Aku dan kenangan mencari setiap kepingan hati yang tertinggal di jalan yang pernah kita lewati.
Bersama kenangan aku menemukan setiap potong hati yang penuh luka. Kususun kembali semuanya bagai sebuah puzzle. Tapi, kini kenangan kita tak lagi bersahabat. Saat semua kembali, saat hati ini utuh lagi, walau ada retak di sana-sini. Tiba-tiba kenangan itu menghancurkannya, merobek kembali tempat yang kubuat untuk menyembunyikan kelukaan ini, dan membuat segala kepahitan itu terbuka lebar untuk yang kesekian kalinya.

Sekarang aku ingin melupakan kamu, juga kenangan. Aku harap aku tak akan lagi melihat kalian, dan semoga saja kamu dan kenangan itu tidak pernah bertamu, terutama saat aku tidak siap untuk bertemu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar