Saat aku kembali merasa sesak, saat rindu ini
memaksaku untuk bertemu, dan saat luka ini kembali terbuka. Apa yang harus aku
katakan? Apakah aku harus berdusta pada nurani? Serta berbohong pada hati yang
terlanjur sakit ini?
Kesakitan, kerinduan,
dan kehampaan kembali, datang lagi untuk mengisi hati yang telah menjadi
kepingan ini. Mampukah itu semua terobati? Sementara pengobatnya sudah pergi
jauh dari sisi.
Walaupun
kamu tak lagi di sini, namun aku tak pernah merasa sendiri. Aku ditemani
sesuatu yang juga bagian darimu. Sesuatu yang selama dua bulan ini mengiringi
langkah kita yang serasi. Sesuatu itu yang kuberi nama ‘kenangan’
Aku pergi
bersama kenangan, kembali meyusuri setiap jalan yang telah aku dan kamu lewati
bersama. Aku dan kenangan mencari setiap kepingan hati yang tertinggal di jalan
yang pernah kita lewati.
Bersama
kenangan aku menemukan setiap potong hati yang penuh luka. Kususun kembali
semuanya bagai sebuah puzzle. Tapi, kini kenangan kita tak lagi bersahabat.
Saat semua kembali, saat hati ini utuh lagi, walau ada retak di sana-sini.
Tiba-tiba kenangan itu menghancurkannya, merobek kembali tempat yang kubuat
untuk menyembunyikan kelukaan ini, dan membuat segala kepahitan itu terbuka
lebar untuk yang kesekian kalinya.
Sekarang aku
ingin melupakan kamu, juga kenangan. Aku harap aku tak akan lagi melihat
kalian, dan semoga saja kamu dan kenangan itu tidak pernah bertamu, terutama saat
aku tidak siap untuk bertemu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar