Senin, 29 September 2014

Gersang


Di atas tanah mengering ini kembali kuhirup udara pagi yang aromanya sangat berbeda, begitu jelas tercium aroma kesedihan akibat kegersangan. Bahkan orang – orang yang begitu ramah padaku terlihat muram. 

Kemarau menghapus hujan serta merenggut tawa bahagia para penghantar berkah sang kuasa, Padi-padi yang sempat menguning dua tahun lalu pun terlihat menyedihkan tak secerah seperti emas dibawah pancaran sinar surya.

Tuhan, kemana bahagia yang dulu sempat kau curahkan pada kami? Kini tak ada lagi bahagia, tak ada air mengalir dengan tenangnya, dan tak ada lagi padi menguning di siang cerah. Mungkin salah hamba yang begitu angkuh dalam dosa, terlalu sibuk menkmati dunia, dan terlalu kufur untuk mensyukuri nikmat-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar