Malam ini
seperti malam-malam sebelumnya, gadis itu memikirkannya, menceritakan
tentangnya dengan kata-kata yang menari di atas kepala.
Aku tak mengerti
yang diinginkan gadis ini, begitu banyak waktunya yang terbuang hanya untuk
mengingat, membawa pulang setiap kenangan yang beberapa diantaranya hanya
menyesakkan dada.
Gadis ini
merasakan debaran yang ada di dadanya berubah menjadi rasa sesak ketika
mengingat hal yang membuat sosok yang dicintanya pergi. Apalagi kepergiannya
tanpa alasan yang jelas, hanya maaf dan terimakasih yang ia ucap.
Tentu saja gadis
ini kecewa, seharusnya sejak awal ia tak mengenal lelaki itu apalagi untuk
mencintainya. Percayalah itu adalah perkenalan yang menyakitkan.
Ia begitu
terbuai oleh manisnya sebuah perkenalan hingga lupa bahwa kebanyakan cinta
datang dengan sapaan ringan dan pergi tanpa sebuah alasan yang mungkin
sebenarnya hanya karena rasa bosan yang tak dapat dijelaskan.
Tapi sayangnya
seberapa banyak ia menyesali, semua tak akan pernah kembali, semua tetap
begini, tetap tak jadi satu, ia tetap menjauh, dan tentu gadis ini hanya akan
tetap merasakan rindu yang selalu bertamu bersama pilu.
Gadis ini
terlalu memikirkan ia, sosok yang bahkan tak pernah ia tau untuk siapa pikiran
dan perhatiannya. Hanya ia yang jadi fokus utama, sampai si gadis lupa bahwa
dirinya sebenarnya adalah aku. Gadis yang menghabiskan waktu untuk menunggu
hingga tak sempat mengingat, apalagi membahagiakan dirinya terlebih dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar